Cahaya Kekuatan dari Jabal Nur
Oleh: Adi Jondri Putra
Pagi masih begitu muda ketika lantunan azan Subuh menggema dari Masjid Al Muhajirin di Jalan Merdeka, Dusun Terang Bulan, Desa Salo, Kecamatan Salo, Senin (13/7/2026). Suara panggilan suci itu memecah kesunyian sekaligus mengawali lembaran baru dalam perjalanan pendidikan putra saya, Ahmad Daniyal Akram.
Dengan langkah pelan saya menghampiri tempat tidurnya. Wajahnya masih terlelap. Maklum, malam sebelumnya ia cukup lama bermain bersama adik tercintanya, Aisyah Azzahra Asri. Namun sebagai seorang ayah, saya percaya bahwa pendidikan karakter dimulai dari hal-hal sederhana, salah satunya membiasakan bangun sebelum fajar dan memenuhi panggilan Allah.
Saya membisikkan pelan di telinganya, “Abang, kita shalat yuk. Azan sudah berkumandang di masjid.”
Dalam keadaan masih setengah sadar, ia menjawab lirih, “Tunggu bentar, Ayah,” sambil meregangkan tubuhnya di atas kasur.
Saya pun tersenyum. Untuk membangkitkan semangatnya, saya menggoda, “Abang, six pack abang sudah kelihatan, tuh.”
Mendengar kalimat itu, Ahmad Daniyal Akram langsung tersenyum malu. Rupanya ia masih mengingat percakapan kami semalam ketika dengan penuh percaya diri memperlihatkan bentuk tubuhnya di depan cermin sederhana di kamar.
Tak lama kemudian ia bangkit. Saya membantunya bersiap menuju kamar mandi untuk berwudu’. Pagi itu kami melangkah bersama menuju Masjid Al Muhajirin, menunaikan salat Subuh berjamaah.
Sepulang dari masjid, bundanya, Sri Hasni, telah menyiapkan sarapan. Setelah makan dan mandi, Ahmad Daniyal Akram mengenakan seragam sekolah dengan penuh semangat. Hari itu bukan sekadar hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, tetapi juga hari pertamanya duduk di bangku kelas IV SD 019 Muhammadiyah Bangkinang.
Perjalanan sekitar lima kilometer menuju sekolah menjadi ruang kecil bagi saya untuk menyampaikan pesan-pesan sederhana yang semoga kelak menjadi bekal hidupnya.
“Sekolah yang rajin ya, Bang. Jaga salat lima waktu. Jangan pernah coba-coba merokok atau mengikuti hal-hal yang bisa merusak masa depan. Fokuslah menuntut ilmu dan belajar menjadi anak yang mandiri.”
Ia tidak banyak menjawab. Hanya sesekali mengangguk sambil tersenyum. Namun dari sorot matanya, saya melihat ia sedang menyimpan setiap kalimat itu di dalam hati.
Sesampainya di sekolah, saya mengantarnya hingga ke depan kelas. Sebagai orang tua, saya ingin mengetahui ruang tempat anak saya akan menimba ilmu selama satu tahun ke depan.
Di atas pintu kelas, terpampang sebuah nama yang membuat langkah saya sejenak terhenti.
Jabal Nur.
Seketika hati saya dipenuhi rasa syukur. Nama itu bukan sekadar penanda ruang belajar, melainkan sebuah doa.
Jabal Nur berarti Gunung Cahaya, sebuah tempat yang sangat bersejarah dalam perjalanan Islam. Di puncak gunung itulah terdapat Gua Hira, tempat Nabi Muhammad ﷺ berkhalwat, beribadah, dan merenungkan keadaan masyarakat Quraisy sebelum menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Dari tempat yang sunyi itu lahirlah cahaya petunjuk yang mengubah perjalanan sejarah umat manusia.
Nama “Jabal Nur” mengingatkan bahwa setiap proses belajar sejatinya adalah perjalanan mencari cahaya ilmu. Cahaya yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menerangi hati dan membentuk akhlak.
Saya pun teringat pada makna kata Jabbar yang dalam bahasa Arab bermakna kuat, perkasa, sekaligus mampu memperbaiki sesuatu yang patah. Dalam Asmaul Husna, Al-Jabbār adalah salah satu nama Allah SWT yang menunjukkan keagungan-Nya sebagai Yang Maha Perkasa dan Maha Memperbaiki.
Sementara Nur berarti cahaya, sinar, petunjuk, dan harapan. Bila dipadukan, maknanya menghadirkan sebuah filosofi indah: cahaya kekuatan atau cahaya yang menumbuhkan keteguhan.
Bukankah setiap anak memang sedang dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang kuat karena cahaya ilmu dan iman?
Di depan kelas itu, saya tidak hanya melihat sebuah papan nama. Saya melihat sebuah harapan. Harapan agar Ahmad Daniyal Akram dan seluruh teman-temannya bertumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, mencintai ilmu, menghormati guru, membanggakan orang tua, serta kelak mampu menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Saya juga berharap, di bawah bimbingan wali kelasnya, mereka tidak hanya belajar membaca, berhitung, dan menulis, tetapi juga belajar menjadi manusia yang memiliki hati, karakter, dan keteguhan dalam menghadapi kehidupan.
Karena pada akhirnya, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya melahirkan anak-anak yang pintar, melainkan melahirkan generasi yang memiliki cahaya kekuatan. kekuatan yang bersumber dari iman, ilmu, dan akhlak.
Semoga Ahmad Daniyal Akram dan seluruh sahabatnya di kelas Jabal Nur senantiasa diberi cahaya ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, langkah yang istiqamah, serta masa depan yang diridai Allah SWT.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.










